BANDUNG — Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengerahkan sekitar 25.000 mahasiswa untuk membantu penanganan sampah di kawasan Bandung Raya. Para mahasiswa dilibatkan dalam pendampingan masyarakat agar pemilahan sampah dilakukan sejak dari rumah dan sumber timbulan.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya Pemprov Jabar mengurangi beban sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat. Pemerintah menargetkan pengurangan sampah dari sumber hingga 20 persen atau sekitar 1.000 ton per hari.
Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, mengatakan penanganan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pola angkut dan buang. Perubahan perilaku masyarakat juga dinilai menjadi bagian penting dalam mengatasi persoalan sampah Bandung Raya.
“Targetnya adalah mengurangi sampah dari sumbernya hingga 20 persen. Jika target tersebut tercapai, dari sekitar 5.000 ton sampah yang dihasilkan Bandung Raya setiap hari, sekitar 1.000 ton dapat ditekan sebelum mencapai TPA Sarimukti,” ujar Herman.
Mahasiswa Dilibatkan untuk Mengubah Kebiasaan Warga
Keterlibatan mahasiswa diarahkan pada edukasi dan pendampingan masyarakat. Mereka tidak ditempatkan sebagai petugas pengangkut sampah, tetapi sebagai fasilitator untuk membantu warga memahami pemilahan dan pengelolaan sampah sejak dari rumah tangga.
Program ini merupakan perluasan dari kegiatan percontohan yang sebelumnya dilaksanakan di Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung. Pendampingan mahasiswa kemudian diperluas ke sejumlah wilayah Bandung Raya.
Pemprov Jabar bekerja sama dengan perguruan tinggi dan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah IV dalam pelaksanaan program tersebut.
Herman menekankan bahwa perubahan perilaku menjadi faktor penting dalam keberhasilan pengelolaan sampah.
“Sehebat apa pun teknologinya, kuncinya tetap human capital, sumber daya manusia. Urusan perilaku tidak seperti membalikkan telapak tangan, tetapi harus dilakukan,” kata Herman.
Mahasiswa yang diterjunkan diharapkan membantu warga memilah sampah organik dan anorganik agar material yang masuk ke fasilitas pengolahan tidak lagi tercampur.
Target Pengurangan Sampah hingga 1.000 Ton per Hari
Bandung Raya menghasilkan sekitar 5.000 ton sampah setiap hari. Dari jumlah tersebut, Pemprov Jabar menargetkan sekitar 20 persen dapat ditekan dari sumber sebelum masuk ke sistem pengangkutan dan TPA.
Target tersebut setara dengan sekitar 1.000 ton sampah per hari.
Pengurangan dari hulu diharapkan membantu memperpanjang kemampuan pelayanan TPA Sarimukti yang selama ini menjadi salah satu tempat utama pembuangan sampah dari kawasan Bandung Raya.
Penanganan dari sumber juga diharapkan membuat fasilitas pengolahan sampah di tingkat lokal, seperti TPS 3R, rumah kompos, dan pengolahan sampah organik, dapat bekerja lebih efektif.
TPA Sarimukti Jadi Salah Satu Fokus Penanganan
Pemprov Jabar saat ini juga melakukan sejumlah upaya untuk mempertahankan kapasitas TPA Sarimukti.
Langkah teknis dilakukan bersamaan dengan intervensi sosial di tingkat masyarakat. Pemerintah ingin penanganan sampah dilakukan dari hulu hingga hilir, bukan hanya mengandalkan perluasan kapasitas tempat pembuangan akhir.
Herman mengatakan strategi tersebut menjadi bagian dari upaya memperpanjang masa operasional Sarimukti sambil menunggu kesiapan sistem pengolahan sampah regional yang lebih permanen.
“Harapan Pak Gubernur, Sarimukti bisa operasional sampai Desember 2029. Kami sedang upayakan hulu, tengah dan hilir,” ujarnya.
Pemilahan dari Rumah Jadi Kunci
Pemprov Jabar menilai pemilahan sampah dari rumah menjadi salah satu langkah yang paling penting.
Jika sampah organik dan anorganik sudah dipisahkan sejak awal, proses pengolahan di tingkat berikutnya dapat berjalan lebih efisien.
Kondisi berbeda terjadi ketika seluruh jenis sampah tercampur. Fasilitas pengolahan harus melakukan pemilahan ulang sebelum material bisa diproses.
Karena itu, keberadaan mahasiswa di tengah masyarakat diarahkan untuk membantu membangun kebiasaan baru.
Pendampingan tidak hanya menyasar cara memilah sampah, tetapi juga mendorong masyarakat memahami bahwa persoalan sampah bukan semata-mata urusan pemerintah atau petugas kebersihan.
Pemerintah Dorong Keterlibatan Masyarakat
Menurut Herman, penyelesaian persoalan sampah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
Pemerintah daerah, perguruan tinggi, komunitas, hingga masyarakat perlu bergerak bersama untuk mengurangi sampah dari sumber.
“Tidak bisa kita main angkut-angkut terus tanpa penanganan komprehensif. Saatnya ada peran serta masyarakat dan semua komponen. Pemda sudah bergerak, perguruan tinggi bergerak, Pramuka bergerak. Ayo masyarakat juga bergerak,” tegas Herman.
Pelibatan mahasiswa menjadi salah satu cara Pemprov Jabar memperluas edukasi kepada masyarakat dalam waktu yang lebih cepat dan menjangkau wilayah yang lebih luas.
Dengan jumlah mahasiswa yang besar, pemerintah berharap pesan mengenai pemilahan dan pengurangan sampah dapat diterapkan langsung di lingkungan rumah tangga.
Dampak bagi Warga Bandung Raya
Program tersebut berpotensi memberi dampak langsung bagi masyarakat jika pemilahan sampah benar-benar dilakukan secara konsisten.
Volume sampah yang harus diangkut ke TPA dapat berkurang, lingkungan permukiman menjadi lebih tertata, dan fasilitas pengolahan di tingkat lokal bisa bekerja lebih optimal.
Di sisi lain, keberhasilan program tetap bergantung pada konsistensi pendampingan dan perubahan kebiasaan masyarakat.
Pengerahan puluhan ribu mahasiswa menjadi langkah awal untuk memperkuat pengelolaan sampah dari hulu. Pemprov Jabar berharap kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat dapat mengurangi tekanan terhadap TPA Sarimukti sekaligus membangun kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
