Dana MBG Rp 1 Triliun per Hari Serap 1,18 Juta Tenaga Kerja Lokal


Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkapkan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah mengalirkan dana yang masif ke berbagai daerah, yakni mencapai rata-rata sekitar Rp 1 triliun per harinya. Memasuki usia program yang menginjak 1 tahun 3 bulan, kucuran dana pemerintah ini terbukti sukses menggerakkan ekonomi kerakyatan dengan menyerap 1,18 juta tenaga kerja atau relawan.

Rincian Alokasi Dana dan Pemberdayaan Warga

Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sonjaya, merinci perputaran uang triliunan tersebut. Dari total aliran dana per hari, sekitar Rp 117 miliar diserap langsung oleh para pekerja dan relawan yang menyalurkan makanan, khususnya yang berasal dari kelompok miskin ekstrem.

Sementara itu, kucuran dana yang lebih besar, yakni lebih dari Rp 600 miliar, diserap oleh para pedagang lokal. Dana ini digunakan untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras, sayur, ikan, telur, daging, hingga buah-buahan.

Untuk menjaga akuntabilitas anggaran, BGN menetapkan sistem penyaluran yang ketat. Sebanyak 70 persen dana digunakan khusus untuk bahan baku dan ditransfer secara langsung ke Virtual Account (VA) masing-masing Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Alur ini sengaja tidak melewati kementerian atau pemerintah daerah guna mencegah penyelewengan.

Jangkau 62 Juta Jiwa Melalui Puluhan Ribu SPPG

Pelaksanaan MBG saat ini ditopang oleh masifnya pembangunan dapur gizi. Berdasarkan data terbaru, jumlah SPPG yang telah terverifikasi kini mencapai 27.066 unit yang tersebar di seluruh Indonesia. Melalui puluhan ribu dapur inilah program MBG berhasil menjangkau 62,35 juta jiwa penerima manfaat, yang terdiri dari 49,64 juta peserta didik dan 12,7 juta masyarakat umum.

Dalam prosesnya, program ini diwajibkan untuk melibatkan rantai pasok lokal, termasuk Usaha Kecil, Mikro, dan Menengah (UMKM) serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Anggota Komisi IX DPR RI, Ade Rezki Pratama, menilai pelibatan petani dan peternak di sekitar lingkungan SPPG ini memiliki potensi besar dalam meningkatkan roda ekonomi masyarakat ke depannya.

Memicu Fenomena Perubahan Model Usaha

Dampak berganda (multiplier effect) dari perputaran uang tunai di daerah ini juga memicu fenomena perubahan model usaha. Menurut Sony, peluang ekonomi dari program MBG membuat masyarakat mulai menyewakan atau mengalihfungsikan bangunannya.

Kini, banyak tempat seperti showroom mobil, hotel kecil, rumah toko (ruko), hingga gedung olahraga yang disulap menjadi dapur SPPG. Langkah BGN ini dinilai bukan hanya sekadar program pemenuhan gizi, melainkan wujud nyata pemberdayaan masyarakat yang cerdas.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama